Pendidikan Oikoumene Kebangsaan untuk Orang Muda: Membentuk Pemimpin yang Berkarakter Oikoumenis dan Relevan bagi Gereja dan Bangsa.
admin
26 Oct 2026 14:28
PONTIANAK, PGI.OR.ID-Pendidikan Oikoumene Kebangsaan (POK) untuk Orang Muda disenggarakan selama empat hari, Senin 19 Oktober-Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan ini dirancang untuk mengajak orang muda gereja peserta memetakan tantangan bangsa dan gereja, mengenali panggilan sebagai orang muda gereja, serta belajar kepemimpinan yang oikoumenis dan tetap relevan di tengah pergumulan Bangsa Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh orang muda dari berbagai gereja.
“Orang muda bukan pemimpin gereja masa depan. Mereka mulai dari sekarang, menjadi garam dan terang dunia.” kata Pdt. Henny Katuuk, Sekretaris Umum PGIW Kalimantan Barat dalam khotbah di Ibadah Pembukaan.
Sesi hari pertama dibuka dengan sesi panel oleh Pdt. Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI, dan Pdt. Paulus Ajong, Ketua Umum PGIW Kalimantan Barat. Dalam sesi panel ini, Pdt. Darwin menyampaikan konteks permasalahan bangsa masa-masa ini, yang juga dirumuskan dalam program kerja lima tahun PGI, sebagai polikrisis. Pdt. Ajong kemudian melanjutkan sesi dengan memaparkan permasalahan dalam konteks Kalimantan Barat.
Dalam sesi awal, orang muda yang berasal dari berbagai sinode diajak untuk memosisikan diri sebagai inisiator yang memecah masalah. Pemuda diajak melihat keberagaman sebagai potensi kekuatan. “Karena Yesus tidak ada lagi tubuh fisiknya di bumi, maka anak muda diutus sebagai kesatuan tubuh Kristus yang menjadi solusi bagi polikrisis yang ada.” kata Pdt. Darwin mengakhiri sesinya sekaligus meresmikan dibukanya kegiatan POK untuk Orang Muda.
Prof. Angel Damayanti, Rektor Universitas Kristen Indonesia juga ikut terlibat sebagai narasumber dalam kegiatan ini. Ia membawakan sesi “Negara atau Tuhan Dulu?” untuk mengajak pemuda untuk berpikir kritis tentang perannya sebagai orang Kristen yang hidup di tengah negara dan masalahnya.
“Orang muda Kristen harus mengingat kisah Ester. Kita ini kayak Esther. Kita gak bisa merasa aman, sementara banyak wilayah di Indonesia bermasalah, semata-mata karena kita aman di wilayah kita. Dia ditegur oleh Mordekhai; siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” kata Prof. Angel menegaskan pentingnya orang muda oikoumene bersatu, sebagai wujud kepedulian terhadap masalah yang lain dibanding masalah sendiri saja.
Pada hari kedua, peserta diajak oleh narasumber dari Relevant Academy Leadership, Ps. Ary M. Wibowo untuk mengenal dirinya sebagai organisme gereja. Sebagai organisme gereja, pemuda perlu mengerti kelemahan dan kekurangannya sendiri, untuk dapat membentuk gerakan bersama dengan yang lain. Menurutnya, anak muda adalah kekuatan besar masa kini dalam menghadapi tiga masalah besar yang muncul belakangan, “anak muda menjadi target industri. Kita hidup di tengah revolusi sosial media, ideologi gender, dan kebangkitan A.I yang belakangan membantu tapi juga bisa merusak. Maka penting untuk melihat bagaimana mindset kita, perspektif kita, aksi kita, habbit kita, tanpa melupakan tradisi kita.”
Selain menerima ilmu dari para narasumber, para peserta juga berkesempatan membagikan cerita tantangan-tantangan dari wilayah masing-masing. Peserta membagikan cerita tentang konteks pelayanan masing-masing sambil membagikan analisa sederhananya mengenai tantangan tersebut; apa yang menjadi latar belakang masalah, kekuatan komunitas, praktik baik yang sudah ada, dan peluang perubahan yang bisa digapai.
Peserta juga diberi kesempatan untuk belajar dan berdialog dengan tokoh-tokoh yang telah mengimplikasikan pelayanan gereja dan pelayanan masyarakat dalam sesi “Learn from the Expert”. Narasumber sesi ini adalah Pdt. Simpon F. Lion, Ketua MPH PGI, dan Adrianus Asia Sidot, anggota DPR RI.

Dalam sesi ini, Adrianus menyampaikan bahwa kepemimpinan adalah soal kualitas, bukan jabatan. Pemimpin yang baik mampu mengarahkan, memotivasi, dan memengaruhi orang menuju visi jangka panjang, serta mengelola sumber daya terbatas lewat perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Ia memaparkan lima gaya kepemimpinan tanpa menyebut satu pun yang terbaik. Di era digital, katanya, pemimpin oikoumenis itu dibutuhkan. Karenanya, kepemimpinan oikoumenis harus dilatih agar mampu berdialog lintas tradisi gereja, dan mengubah dialog menjadi aksi dan kekuatan bersama, bukan alasan memecah komunitas.
Pdt. Simpon menambahkan apa yang sudah disampaikan Adrianus, sambil menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk berpihak pada kelompok lemah, ikut menghadapi krisis bangsa, dan semuanya dimulai dari sub terkecil komunitas, yakni keluarga. Gerakan oikumene harus berakar pada pergumulan nyata dan melampaui perbedaan denominasi. Ia mendorong gereja membuka ruang keputusan bagi orang muda lewat mentorship dua arah dan semangat “melayani bersama”. Pemimpin muda diminta setia pada dogma iman, terbuka pada perubahan sosial, dan menjadi teladan.
Dengan begitu sharing dari Pdt. Simpon kembali mengingatkan peserta pada pembicaraan yang mengawali hari kedua, tentang pentingnya menjaga jati tradisi, sambil tetap terbuka pada perbedaan yang memperkaya, sebagaimana disampaikan Ps. Ary Wibowo.
Acara ditutup dengan recap dan doa malam yang dipimpin oleh peserta. Setelah mengikuti seluruh rangkaian pada hari pertama dan kedua, peserta diharapkan terlengkapi dengan pemahaman yang lebih utuh tentang komunitas yang oikoumenis dan pentingnya memiliki karakter pemimpin oikoumenis sebagai kekuatan untuk menciptakan solusi atas masalah-masalah di tengah bangsa Indonesia. (BPR)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Pendidikan Oikoumene Kebangsaan untuk Orang Muda: Membentuk Pemimpin y...
PONTIANAK, PGI.OR.ID-Pendidikan Oikoumene Kebangsaan (POK) untuk Orang Muda disenggarakan selama empat hari, ...
Sidang Raya XVI GGP Teguhkan Langkah Melampaui Batas dan Pilih Kepemim...
Serpong, Banten,PGI.OR.ID- Sidang Raya XVI Sinode Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) yang berlangsung di Grand H...
Deklarasi Makassar: Gerakan Lintas Iman Desak Demokrasi Berkeadilan Ek...
MAKASSAR, 23 Oktober 2026 — Tokoh-tokoh lintas iman, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan perwakilan ...

