Ketua Umum PGI: GKS Dipanggil Membangun Eklesiologi Kehidupan di Tengah Krisis Ekologis, Kemanusiaan, dan Budaya
admin
07 Jul 2026 22:35
SUMBA TIMUR, PGI.OR.ID – Gereja dipanggil untuk tidak hanya memelihara kehidupan internalnya, tetapi juga menghadirkan kasih Allah melalui tindakan nyata dalam merawat seluruh ciptaan. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, saat menyampaikan ceramah pada Sidang Sinode XLIV Gereja Kristen Sumba (GKS) yang berlangsung di Jemaat GKS Nggongi, Klasis Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 2–10 Juli 2026.
Sidang Sinode yang mengusung tema "Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus" (Mazmur 24:1) itu diikuti oleh utusan dari 57 klasis yang tersebar di Pulau Sumba. Sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi GKS—salah satu sinode terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur—persidangan ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelayanan lima tahun terakhir, menetapkan arah kebijakan pelayanan gereja lima tahun ke depan, serta memilih kepemimpinan baru Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKS periode 2026–2031. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan perubahan sosial-budaya, sidang sinode juga menjadi ruang refleksi bersama mengenai peran gereja dalam merawat kehidupan.
Dalam ceramah bertajuk "Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus (Mazmur 24:1): Menuju Eklesiologi Kehidupan bagi Gereja Kristen Sumba di Tengah Krisis Ekologis, Kemanusiaan, dan Budaya," Pdt. Jacklevyn mengajak seluruh peserta sidang melihat tema sinode bukan sekadar sebagai ajakan mencintai lingkungan hidup. Lebih dari itu, menurutnya, tema tersebut merupakan panggilan untuk membangun eklesiologi kehidupan, yakni cara gereja memahami dirinya sebagai komunitas yang dipanggil Allah untuk menjaga, memelihara, dan memulihkan seluruh kehidupan ciptaan.
Menurut Ketua Umum PGI, dunia saat ini sedang menghadapi situasi yang oleh banyak ilmuwan dan teolog disebut sebagai polycrisis, yaitu berbagai krisis yang saling bertaut sehingga tidak dapat dipahami maupun diselesaikan secara terpisah. "Kerusakan ekologis melahirkan krisis pangan. Krisis pangan memperparah kemiskinan. Kemiskinan mendorong migrasi dan konflik sosial. Konflik kemudian menghancurkan relasi budaya dan komunitas. Semua itu pada akhirnya menunjukkan adanya krisis yang lebih mendasar, yakni krisis ontologis, krisis mengenai cara manusia memahami dirinya, sesamanya, alam, dan Allah," ujarnya.
Karena itu, menurutnya, gereja tidak cukup hanya hadir memberikan respons terhadap dampak-dampak krisis melalui pelayanan sosial. Gereja juga dipanggil menyentuh akar persoalan dengan membangun kembali cara pandang manusia terhadap kehidupan sebagai anugerah Allah yang harus dijaga bersama. Pdt. Jacklevyn kemudian mengajak peserta sidang kembali kepada Mazmur 24:1, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta segala penghuninya." Baginya, ayat tersebut bukan sekadar pembuka sebuah mazmur, melainkan sebuah pernyataan ontologis mengenai hakikat realitas.

Ia menjelaskan bahwa sebelum berbicara tentang etika, ibadah, ataupun kewajiban manusia, Alkitab terlebih dahulu menegaskan siapa pemilik bumi. Dengan demikian, teologi mendahului etika. Pengakuan bahwa bumi adalah milik Tuhan menjadi dasar bagi seluruh tanggung jawab manusia dalam memperlakukan ciptaan. "Pemazmur tidak memulai dengan mengatakan 'jadilah kudus', melainkan terlebih dahulu menyatakan bahwa bumi adalah milik Tuhan. Dari pengakuan itulah seluruh kehidupan etis orang percaya memperoleh landasannya," katanya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa struktur Mazmur 24 bergerak dari pengakuan tentang kepemilikan Allah atas seluruh ciptaan menuju panggilan hidup kudus, hingga pengakuan akan Allah sebagai Raja Kemuliaan. Dengan demikian, relasi manusia dengan bumi tidak pernah didasarkan pada hak kepemilikan, melainkan pada tanggung jawab sebagai penatalayan (steward) atas ciptaan Allah.
Dalam ceramahnya, Pdt. Jacklevyn juga memaparkan sejumlah pendekatan penafsiran terhadap Mazmur 24. Dari perspektif teologi penciptaan, ayat tersebut menegaskan Allah sebagai satu-satunya Pencipta dan Pemilik dunia. Dari perspektif teologi penatalayanan (stewardship theology), ayat itu mengingatkan bahwa klaim manusia atas tanah, harta benda, dan sumber daya alam selalu bersifat sementara karena semuanya adalah titipan Allah. Dalam perspektif liturgi, pengakuan bahwa bumi adalah milik Tuhan menjadi dasar setiap orang memasuki hadirat-Nya dengan kerendahan hati. Sementara dalam pembacaan Perjanjian Baru, Rasul Paulus menggunakan ayat yang sama untuk menegaskan bahwa seluruh ciptaan berasal dari Allah dan karena itu harus diterima dengan penuh syukur. "Semua pembacaan itu sesungguhnya tidak saling bertentangan. Semuanya berangkat dari satu pengakuan yang sama bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Allah. Dari pengakuan itu lahirlah tanggung jawab untuk menjaga kehidupan," katanya.
_1784363884.jpeg)
Ketua Umum PGI kemudian menghubungkan pesan Mazmur 24 dengan konteks penyelenggaraan Sidang Sinode di Nggongi. Menurutnya, pemilihan Nggongi bukan sekadar soal lokasi, melainkan memiliki makna teologis yang mendalam. “Nggongi bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya persidangan, tetapi menjadi locus theologicus, ruang di mana gereja membaca kembali Injil dari denyut kehidupan masyarakatnya sendiri.” Sebagaimana Allah menyatakan diri melalui tempat-tempat konkret dalam sejarah Alkitab—Sinai, Betlehem, Nazaret, Galilea, hingga Yerusalem—demikian pula gereja diajak mendengar kembali firman Tuhan dari tengah bentang savana, tanah, mata air, ternak, rumah-rumah adat, dan kehidupan masyarakat Sumba Timur.
Refleksi itu kemudian diperdalam melalui pembacaan terhadap kosmologi masyarakat Sumba. Dalam tradisi Marapu, manusia dipahami hidup dalam jaringan relasi yang menghubungkan leluhur, keluarga, tanah, hewan, dan Yang Transenden. Tanah bukan sekadar ruang produksi, melainkan ruang identitas, sejarah, dan keberlangsungan kehidupan.
Namun, menurut Pdt. Jacklevyn, Mazmur 24 menghadirkan pendalaman teologis yang sangat penting. Jika budaya memandang tanah sebagai bagian dari identitas komunitas, maka Alkitab menegaskan bahwa kepemilikan tertinggi atas tanah berada pada Allah. "Ketika bumi dipahami sebagai milik Allah, hubungan manusia dengan tanah berubah dari relasi kepemilikan menjadi relasi penatalayanan. Tanah tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas yang dapat dieksploitasi tanpa batas, tetapi sebagai ruang sakral tempat manusia menjalankan panggilannya sebagai rekan sekerja Allah dalam memelihara kehidupan," ujarnya.
Karena itu, ia mengajak GKS bergerak dari paradigma pelayanan yang berpusat pada institusi menuju gereja yang sungguh-sungguh menghadirkan kehidupan. Gereja dipanggil menjadi komunitas yang memperjuangkan keadilan ekologis, membangun solidaritas sosial, memelihara kebudayaan, serta memulihkan relasi manusia dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Baginya, gereja tidak dapat memisahkan pemberitaan Injil dari tanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan. Krisis lingkungan, hilangnya sumber air, meningkatnya kemiskinan, hingga memudarnya nilai-nilai budaya merupakan pergumulan iman yang harus dijawab secara bersama oleh gereja.
Menutup ceramahnya, Pdt. Jacklevyn mengajak seluruh peserta sidang belajar dari bentang savana Sumba Timur. “Savana mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan gereja modern. Kehidupan selalu bergantung pada keseimbangan. Rumput bergantung pada hujan. Ternak bergantung pada rumput. Manusia bergantung pada ternak. Komunitas bertahan karena manusia saling menopang. Tidak ada kehidupan yang berdiri sendiri.” Karena itu, lanjutnya, Mazmur 24 bukan sekadar pengakuan iman, melainkan juga manifesto ekologis, manifesto antropologis, manifesto sosial, sekaligus manifesto eklesiologis yang memanggil gereja menjaga relasi antara Allah, manusia, budaya, dan seluruh ciptaan.
_1784363907.jpeg)
Selain menjadi ruang permenungan teologis, Sidang Sinode XLIV GKS juga menghasilkan sejumlah keputusan strategis bagi perjalanan pelayanan GKS lima tahun mendatang. Persidangan memilih Pdt. Yakub Malo Bili sebagai Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GKS periode 2026–2031, didampingi Pdt. Aprianus M. Dj. Uma sebagai Sekretaris Umum. Kepemimpinan baru tersebut diharapkan mampu menerjemahkan semangat sidang sinode ke dalam pelayanan yang semakin kontekstual, memperkuat kesaksian gereja di tengah masyarakat, serta membangun kemitraan yang konstruktif dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat dalam menjawab tantangan kemanusiaan, pendidikan, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan.
Bagi PGI, Sidang Sinode XLIV GKS menjadi lebih dari sekadar forum organisasi gereja. Persidangan ini merupakan momentum untuk meneguhkan kembali panggilan gereja sebagai komunitas yang merawat kehidupan. Di tengah krisis ekologis, kemanusiaan, dan budaya yang semakin saling berkelindan, gereja dipanggil menghadirkan kasih Kristus melalui keberpihakan kepada kehidupan, menjaga keutuhan ciptaan, memelihara martabat manusia, serta membangun masa depan bersama berdasarkan pengakuan iman bahwa bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan. (EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
FUKRI Desak Pemerintah Jadikan Penanganan Krisis Kemanusiaan dan Peng...
JAKARTA,PGI.OR.ID-Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI), yang mewadahi lembaga gerejawi seperti PGI, KWI, PGP...
Sidang Sinode ke-60 GMIBM di Pinogaluman: Tekankan Spiritualitas Keuga...
BOLMONG, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) terus berkomitmen untuk memperkuat relasi ...
Ketum PGI dalam Rakernas Forum Nasional IKA PTKIN: Merawat Bumi adalah...
JAKARTA, PGI.OR.ID – Krisis iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan lingkungan semata. Ia telah b...

